Tampilkan postingan dengan label MUHAMMAD ALDY AMALI 153070129/C. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MUHAMMAD ALDY AMALI 153070129/C. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Mei 2009

Koalisi yang Rapuh

Persaingan politik kian memanas seiring dengan semakin dekatnya pemilihan presiden pada bulan Juli mendatang dan banyaknya partai yang akan bertarung pada pemilu 2009 nanti. Ranah politik seakan sedang mengalami peperangan yang sengit.

Mereka berlomba-lomba membentuk koalisi demi tercapainya ambisi menjadi penguasa negeri ini. Apalagi dengan Undang-Undang Pemilihan Presiden yang sedang dibahas saat ini memutuskan persyaratan yang tinggi bagi partai untuk bisa mencalonkan presiden dan wakilnya misalnya 30 persen, maka bisa dipastikan tak ada satupun parpol yang mampu mengajukan calon secara sendiri.
Partai-partai besar seperti PDI-P, Golkar, Gerindra, Hanura, PPP, PAN mulai merapatkan barisan membentuk koalisi besar enam partai untuk menantang koalisi Pro-Cikeas. Namun koalisi besar tersebut terancam buyar, enam partai yang semula hendak menantang SBY tidak menemukan titik temu, apalagi setelah Golkar dan Hanura mendeklarasikan pasangan Jk-Wiranto.
Hakikat koalisi sendiri adalah untuk membentuk pemerintahan yang kuat, mandiri, dan tahan lama. Tetapi, semua partisipan berlomba untu menjadi pemenang, tanpa memperhatikan bahwa rapuhnya koalisi yang terbentuk ini tentu saja tidak akan mampu melahirkan pemerintahan yang kuat dan tegas. Setiap program dan kebijakan yang diusulkan harus mempertimbangkan kepentingan partai anggota koalisi lainnya. Bila tidak, maka koalisi yang rapuh itu bisa saja bubar di tengah jalan dan berbalik menjadi perpecahan, berbalik melawan.
Untuk membentuk pemerintahan yang kuat, mandiri dan tahan lama, maka koalisi yang harus dibentuk adalah koalisi yang permanen. Yaitu koalisi yang terbentuk dari adanya nilai-nilai bersama, tujuan politik yang sama dengan adanya konsensus dan kontrak politik untuk mepertahankan koalisi. Bukanlah koalisi pragmatis yang hanya berdasarkan kepentingan sesaat untuk merebut kekuasaan.
Merujuk kepada wacana koalisi Golkar-Hanura saat ini, koalisi ini bisa terbentuk karena kedua partai ini adalah partai besar sehingga mudah mencapai suara mayoritas. Pertanyaan selanjutnya apakah kedua partai ini mempunyai nilai-nilai bersama dan tujuan politik yang sama untuk diperjuangkan? Bila tidak tentu saja koalisi ini hanyalah koalisi pragmatis yang hanya bertujuan untuk merebut kekuasaan namun mengabaikan hakikat koalisi.
Pemilu seharusnya merupakan jalan bagi Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah. Dengan mempunyai wakil rakyat pilihan yang berkualitas, berdedikasi penuh kepada rakyatnya, dan membangun pemerintahan yang kuat, mensejahterakan rakyat. Bukannya malah dijadikan ajang permainan politik yang penuh dengan intrik dan hanya berorientasi pada kekuasaan semata.

Rabu, 29 April 2009

Mr.Bakin, si Tukang Reparasi Payung


Sedia payung sebelum hujan, tidak ada payung badan pun kehujanan. Itulah pepatah yang cocok dilontarkan dari mulut Bakin (59). Seorang lelaki yang sudah 35 tahun menjadi tukang reparasi payung di daerah pasar Beringharjo.
Payung rusak jangan lantas dibuang, datang saja kepada Bakin, pria tua ini sanggup mereparasi segala aneka bentuk dan ukurang payung. Hanya cukup dengan Rp.5000, payung rusak kembali bisa dipakai. Keahliannya mereparasi payung didapat dari ayahnya, "Kerja ini ya dari ayah saya, turun-temurun", ucap Bakin, warga Tempel Yogyakarta. Lantas inilah pekerjaannya dan satu-satunya.
Setiap hari, setidaknya 20 biji payung rusak dapat diperbaikinya. Dan setidaknya dia dapat hasil Rp.50.000 masuk kekantongnya. Memang bukan angka yang tinggi, tapi Bakin tetap saja bertahan pada pekerjaan ini. "Kalau musim hujan bisa lebih dari lima puluh ribu, itupun tidak menentu. kalau lagi sepi malah paling cuman dapat sepuluh ribu", lontar bapak 5 orang anak ini. Bukanlah angka yang besar, mengingat Bakin harus menghidupi istri dan 2 orang anak yang masih hidup bersamanya.
Seiring kemajuan jaman, menurutnya lebih banyak orang membuang payung daripada membetulkannya. Mungkin harga payung baru semakin murah. "Kebanyakan orang ingin yang instan mas, rusak buang lantas beli baru", cerita pria berkacamata ini. Namun, walaupun semakin sepi Bakin tetap percaya bahwa reparasi payung masih dibutuhkan. "Mudah-mudahan bisa bertahan, mas. bapak saya saja bisa masak saya tidak bisa. nanti istri anak saya makan apa", candanya sembari meminta ijin untuk melanjutkan memperbaiki payung bertumpuk disekitarnya. Hanya walaupun dengan reparasi payung, Bakin sudah bisa membiayai 3 orang anaknya lulus sekolah tingkat atas. Dan masih ada kebutuhan untuk istri dan 2 anak menunggunya, inilah yang tidak menghentikannya untuk berhenti menjadi si Tukang Reparasi Payung.

Rabu, 04 Maret 2009

ANTARA KOPI DAN HOTSPOT

LENTERA, Yogyakarta - "Kopi dan hotspot tidak dapat dipisahkan" ujar seorang pemilik kafe di wilayah nologaten. Fasilitas hotspot atau wirelles connection area merupakan peluang bisnis yang cerah untuk dimanfaatkan oleh para pebisnis. Khususnya dalam hal tempat untuk nongkrong anak muda yaitu tempat minum kopi atau coffe shop. "Hotspot adalah perlengkapan standar untuk fasilitas tempat ngopi jaman sekarang, tanpa itu mungkin kita akan dibilang ketinggalan", ujar Rudy, salah satu manajer coffe shop di daerah Demangan baru. "Tempat ngopi tanpa embel-embel hotspot,serasa sayur yang tanpa garam. Dan hotspot merupakan senjata ampuh untuk menarik pelanggan", kata Ilham, seorang pemilik tempat ngopi di daerah Nologaten.

"Kita kesini memang untuk minum kopi sekaligus menikmati internetan gratis (red-hotspot)", bilang salah satu pengunjung yang datang ke Nusantara coffe daerah Nologaten yang menyediakan fasilitas hotspot. "Selain berasik ria mengobrol dengan teman-teman,kita juga bisa browsing web sepuasnya,tanpa harus membayar perjamnya" ujarnya lagi.
Tempat minum kopi atau coffe shop memang tidak bisa lepas dari fasilitas hotspot. Karena dengan adanya hotspot, cafe itu akan menjadi lebih menarik dan mempunyai daya pikat yang tinggi bagi para konsumen.