Tampilkan postingan dengan label CLARISA VELMA JOHN / 153070070. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CLARISA VELMA JOHN / 153070070. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Mei 2009

Pemilu dan Kapitalisme Media

Kapitalisme media telah menggeser fungsi media sebenarnya. Yaitu sebagai saluran informasi, pendidikan, dan juga hiburan. Namun dimasa pemilu media telah dipenuhi iklan-iklan partai politik yang tidak sedikit mengeluarkan dana. Apakah media hanya mementingkan keuntungan semata?

Masa kampanye lalu dimana partai politik banyak mengeluarkan dana untuk belanja iklannya disambut baik oleh media massa. Bagaimana tidak? Dari belanja iklan itulah media mendapatkan cukup banyak keuntungan. Bahkan salah satu TV swasta sempat diperingatkan karena terlalu sring menampilkan iklan salah satu partai baru.

Memang benar keuntungan media salah satunya didapat dari iklan. Iklan-iklan partai politik menghabiskan bermilyar rupiah. Partai Golkar menghabiskan Rp. 5 Milyar dan Gerindra mengeluarkan rata-rata Rp. 9 milyar untuk belanja iklannya. Siapa yang akan menolak tawaran besar ini. Namun terkadang masyrakat mendapatkan kesan bahwa stasiun TV memihak kepada salah satu partai. Hal ini tidak baik karena akan berpengaruh kepada reputasi media. Media seharusnya bisa netral.

Tidak mudah memang menolak proyek jutaan bahkan milyaran rupiah. Untuk itu adanya aturan-aturan yang membatasi media dalam menayangkan iklan parpol. Sehingga porsi berita dan iklan bisa seimbang. Disisi lain media harus kembali pada ideologi media itu sendiri. Tidak hanya memikirkan keuntungan semata tapi berpihak kepada rakyat. Rakyat membutuhkan informasi mengenai caleg yang berkualitas. Bukan hanya iklan-iklan yang mengobral janji.

Selasa, 28 April 2009

Mencari Kehidupan Dari Tusuk Sate

Asap dan bara api sudah biasa menemani perjalannya mencari nafkah bagi keluarga. Ahmadi (47) asal madura. Berjualan sate di taman Parkir Abu Bakar Ali. Dengan kemeja lusuh dan celana panjang kain pria ini memanggil setiap wisatawan yang lewat.

Ramainya wisatawan dan bus pariwisata yang datang sudah menjadi pemandangn sehari-hari bagi pria ini. Tiap sore hari Ahmadi berjualan sate dengan gerobak yang ia miliki setahun yang lalu. Jika taman parkir sedang sepi ia menjajakan satenya keliling kampong. ”Ya.. nggak disini terus mbak, kalau lagi sepi jualannya keliling kampung.” ucap bapak beranak dua ini. ”Saya biasanya jualan dari jam 6 sore sampai jam 12 malam.” sambungnya.

Penghasilan yang dihasilkan dari berjualan sate tidaklah cukup untuk menghidupi seluruh keluarga. Tidak ada yang bekerja selain pak ahmad. Istrinya dirumah mengurusi anak-anaknya yang masih berada di bangku Sekolah Dasar. ”Penghasilan nggak tentu. Kadang-kadang Cuma dapat 50ribu. Paling besar yang pernah saya dapat 200ribu.” Pria dengan logat Madura yang khas ini mengaku penghasilan paling banyak didapat di akhir pekan katika banyak wisatawan yang berkunjung ke kota Jogjakarta.

Ditengah mahalnya harga-harga barang dan sembako tidaklah membuat pedagang sate asli Madura ini putus asa. Semangat pantang menyerah untuk menghidupi keluarga membuat bapak dua anak ini tetap berjuang mencari nafkah.

Sabtu, 28 Maret 2009

Mahasiswa Perantau Tidak Nyontreng

Pemilihan umum 2009 sudah ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Saat inilah dimana rakyat mempergunakan hak suaranya untuk memilih para pemimpin yang dapat memajukan bangsa ini. Namun ditengah ramainya perbincangan mengenai siapa caleg yang akan dipilih, ada sebagian kelompok yang tidak dapat menggunakan hak pilihnya. sebagian mahasiswa perantau tidak dapat menyontreng tahun ini. Mereka tidak masuk dalam daftar pemilih di wilayah mereka.


Oka (21) mahasiswa UI yang berasal dari Padang mengaku kecewa karena tidak bisa ikut memilih caleg favoritnya. Ia juga menuturkan bahwa tidak hanya dirinya yang merasa kecewa tapi teman-temannya juga merasakan hal yang sama. ”Masa tanggal 9 harus pulang ke Padang dulu baru bisa nyontreng”.ucapnya.

Dalam peraturan UU dan peraturan KPU orang yang berhak memberikan suara di TPS adalah orang-orang yang terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT) dan orang-orang yang terdaftar di daftar pemilih tambahan. Artinya, seorang pemilih pindah boleh dimasukkan ke daftar pemilih tambahan.


Mekanismenya, pemilih tambahan harus memiliki bukti terdaftar di TPS asal, lalu mendatangi Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KKPS), Petugas Pemungutan Suara (PPS) tingkat Kelurahan, Petugas Pemungutan Kecamatan (PPK) di kecamatan atau KPU kabupaten/kota asal dengan meminta formulir A5 (pindah pemilih).

Kampanye Money Politic Golkar

Kampanye terbuka partai Golkar di jogja (24/3) diindikasikan adaya money politic oleh panwaslu. Dalam kampanyenya partai Golkar membagi-bagikan dana bantuan dan doorprize kepada puluhan komunitas se-DIY. Doorprize yang diberikan pun tak tanggung-tanggun yaitu sebuah sepeda motor. Panwaslu menilai kampanye partai berlambang pohon beringin ini melanggar UU Pemilu pasal 28 ayat 1 huruf J. aturan tersebut melarang menjajikan atau memberikan uang/materi lainnya kepada peserta kampanye.

Panwaslu sudah memiliki bukti berupa data-data dan foto yang nantinya akan dikaji dan melakukan verivikasi. Setelah itu akan dibawa ke Forum Penegakan Hukum Terpadu untuk di tindaklanjuti.

Kampanye terbuka partai Golkar tidak dihadi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X karena tidak mendapatkan izin dari Mentri Dalam Negri untuk berkampanye di wilayah DIY, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Kampanye tersebut dihadiri oleh Aburizal Bakrie, adik kandung Sri Sultan Hamengku Buwono X yang juga fungsionaris DPP Partai Golkar Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Joyokusumo.

Dalam orasinya Aburizal mengingatkan kembali bahwa partai Golkar adalah parta berpengalaman. Dan meminta seluruh kader untuk meyukseskan pemilu 2009. partai ”Golkar tidak memberikan janji, tapi bukti” kata Aburizal dalam orasinya.

Senin, 23 Februari 2009

FOTKOM 401 Pameran Lagi

Lentera, Yogyakarta - Kelompok Studi Mahasiswa Fotografi ‘FOTKOM 401’ Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta menggelar pameran fotografi ilustrasi bertajuk Puisi Cinta Chairil Anwar.
Pameran fotografi ilustrasi ini diselenggarakan di Ruang MES 56 Jl. Nagan Lor No. 17 Yogyakarta dari tanggal 14 Februari 2008 s/d 28 Februari 2008. Hasil foto dalam pameran ini merupakan hasil workshop FOTKOM 401 mahasiswa FISIP, Ilmu Komunikasi, UPN "Veteran" Yogyakarta dengan Ruang MES 56.
“Chairil Anwar merupakan seniman yang turut andil dalam memajukan dunia satra di Indonesia dengan karya-karyanya” tutur Sigid selaku panitia pameran. “Pada kali ini, fotkom menampilkan hal lain dari dulu, pameran anak2 fotkom cenderung ke arah dunia jurnalistik mereka mencoba tampil lain dengan menggelar event ini” tambahnya.
Pameran ini di ikuti oleh 29 anggota FOTKOM 401 dari berbagai angkatan. Para ilustrator tersebut adalah Hardian N Adi, Anggraeni W Ikasari, Fauziah Ayu Rahmawati, Eka Prabowo P, Wahyu Putro A, Moechammad Ramdhan S, Endarso Wicaksono, Garnis Saputri, Reza Fitrianto, Guntur Aga T, Adi Adriandi, Nugroho Hadi Santoso, Yuliani Noorsafitri, Noveradika Priananta, Niko Kurniajati, Anisa Yonasari, Nouval Akbar, Novie Rullyanti, Ozzie Prasilina, Anggia Pita Loka, Aderi Putra W, M Rayhan Fauzi, Saras Dwi Chandra, Sigid Kurniawan, Gigih, Syevira Citra H, Dwi Asri Wulandari, Yoga Hutama Putra, Hendy Susilo Nugroho.
Hasil foto yang ditampilkan berasal dari puisi Chairil Anwar yang di interpretasi secara individu oleh para penghasil foto yang di seut sebagai ilustrator. Dengan berbagai macam teknik digunakan seperti foto karya Ayu Rahmawati mengambil puisi dengan judul “Hampa” di konstruksikan dengan gagasan ‘anti gravitasi’nya.